Percaya berarti mengetahui bahwa setiap hari merupakan awal yang baru
yakin bahwa keajaiban mungkin terjadi sehingga mimpi menjadi kenyataan...


♥ b.R.o.w.N.h.i.e.Z.e.H.o.o.M.e.Y ♥

Tuesday, October 05, 2004 ♥ 1:44 PM


CINTA DAN WAKTU



Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.


Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.


Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.


Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahusehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.


Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak.


Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.


Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.


Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau
terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.


Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu. "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya
Cinta heran.


"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."


::Bulletin Board - Friendster

Friday, October 01, 2004 ♥ 8:41 AM


KISAH PELACUR YANG MEMBUNUH TUHANNYA


Senja itu senyap ketika angin mendesir menerbangkan daun yang gugur perlahan. Pelacur itu mengutuk nasibnya. Dua hari lalu rekannya mati Dengan mengerikan. Saat pemakaman jenazahnya tak bisa masuk liang. Tubuhnya tiba-tiba memanjang sehingga panjangnya melebihi ukuran liangnya. Menurut orang-orang tua ia dikutuk oleh langit dan bumi.
Setelah didatangkan seorang kyai barulah jenazahnya bisa dimakamkan. Peristiwa itu demikian membekas di hatinya hingga terbitlah sesal. Sejak itu ia selalu murung saja memikirkan masa depannya. Dan sejak itu juga dia ingat kembali masa-masa kecilnya.


Dulu ia bersama teman-temannya biasa ke surau untuk mengaji selepas maghrib. Ia dulu sering ikut majelis taklim. Ia dulu rajin berpuasa, tarawih dan ikut membantu menyiapkan sahur untuk keluarga. Tapi sejak ia menikah dengan tetangga desanya nasibnya menjadi berubah. Suaminya ternyata penipu, pemabuk dan penjudi. Ketika seluruh hartanya habis di meja judi, ia menjual istrinya ke seorang germo. Dan, singkat cerita, sejak itulah dia menjadi seorang pelacur.


Dan kematian rekannya itu menjadikannya merasa berdosa, sangat berdosa. Ia ingat ajaran ustad-ustadnya di kampung dulu, tentang siksa neraka bagi pelacur seperti dirinya. Ia dulu pernah membaca cerita bergambar yang mengisahkan siksa neraka, di mana para pelacur kemaluannya ditusuk dengan besi panas di dalam ruang api yang menyala-nyala.


Dan di senja yang senyap itu ia sangat sedih, ia merasa tak lagi berharga di mata Tuhan. Pikirannya penuh dengan bayang-bayang murka Tuhan. Ia lalu ingat lagi masa remajanya. Dulu ustadnya dengan hidup menceritakan bagaimana Tuhan menyiksa para pendosa dengan kejam. Tuhan mengawasi setiap tindak-tanduk manusia, memerintahkan malaikat mencatat segala amalnya, dan menghukum atau memberi kenikmatan yang tak terhingga. Dan di senja itu juga ia sangat murung. Setelah berpikir cukup lama ia memutuskan pergi mencari ulama untuk meminta nasihatnya.


Maka esok harinya ia meminta ijin pada germonya untuk berbelanja. Tapi Tentu saja ia tak berbelanja, ia pergi ke mesjid terdekat. Menemui ulama di sana, dan tentu saja hujan nasihat menyiram pikirannya. Dan demikianlah ia berjalan dari satu mesjid ke mesjid lainnya, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya. Dan hujan nasihat itu semakin deras. Semuanya mirip, tentang ampunan dan janji sorga, dan, lagi-lagi, tentang neraka yang mengerikan, tentang Tuhan Yang Maha Adil yang memberi balasan setimpal atas hamba-hambanya; dia harus bertobat, kembali ke jalan lurus, banyak salat, dan istighfar.


Tapi itu semua tak bisa menentramkannya, sebab setiap kali ia salat, istighfar, bayangan murka Tuhan dalam bentuk siksa neraka selalu saja Hadir di pikirannya.
Kembali dia mengutuki nasibnya. Maka hatinya gundah, dan tetap saja ia masih merasa kotor di hadapan Tuhan.


Ia selalu ingat siksa neraka itu. Hingga akhirnya setelah beberapa minggu tak juga merasa tenang ia memutuskan tak lagi mencari ketenangan itu . Ia selalu ingat siksa Tuhan di neraka. Ia tak lagi yakin ada ampunan dari-Nya karena bayangan siksa-Nya yang demikian kejam terus saja menghantuinya, karena ia masih melacur, lagipula ia tak ada pekerjaan lain selain melacur karena ia tak punya keahlian lainnya - jadi bagaimana mungkin ia diampuni jika bertobat tetapi mengulangi kesalahan yang sama; tapi jika ia tak melacur ia pasti kelaparan. Ia merasa tak punya pilihan lain, hingga akhirnya ia secara tak sadar telah menarik kesimpulannya sendiri tentang Tuhan: Dia adalah Yang Maha Keras di dalam Maha Keadilan-Nya. Dia adil, dan menepati janji, maka tentunya siksaan itu pasti dijatuhkan. Dirinya telah ditakdirkan menjadi pelacur selamanya dan karena itu akan tetap bergelimang dosa. Dengan pikiran begitu ia patah semangat. Pikirannya kalut dan akhirnya ia nekat hendak bunuh diri. Ya, bunuh diri! Bukankah sama saja mati nanti dengan mati sekarang, toh hukuman sudah menanti. Memang benar dia pernah dengar sifat-Nya yang Maha Pengampun. Ia memang pernah dengar bahwa sebelum nyawa sampai ke kerongkongan ampunan-Nya masih terbuka. Akan tetapi ia juga pernah mendengar bahwa manusia berdosa mesti masuk neraka dulu untuk disucikan dari kotoran-kotoran dosanya, baru diangkat ke sorga. Jadi, pikirnya, mungkin, sekali lagi mungkin, dirinya akan diampuni, tetapi tetap saja ia mesti masuk neraka, sebab Tuhan Maha Adil dan Menepati Janji. Lagipula tak ada jaminan ia masih hidup esok hari, dan tak ada jaminan dia akan mati dalam keadaan telah bertobat.


Selain itu cap dirinya sebagai pelacur sungguh sulit dihapuskan. Bahkan kalau ia meninggalkan dunia pelacuran ini, sebutan "bekas pelacur" tetap saja memalukan. Bahkan di dunia ini sesungguhnya dia telah dihukum secara sosial dan psikologis. Bahkan di dunia ini dia sudah dihukum! Jadi Sekali lagi, hukuman itu tampak sebagai sebuah keniscayaan.


Sekarang ia harus memikirkan cara bunuh diri yang paling efisien dan tidak menyakitkan. Gantung diri jelas tak nyaman. Terjun dari gedung bertingkat juga tak mungkin sebab dia takut ketinggian. Ini persoalan serius, ia harus memikirkannya masak-masak. Dan malam ini, sambil melakukan Pekerjaannya melayani lelaki, pikirannya sibuk memikirkan cara bunuh diri secara efisien dan tak menyakitkan. Dan pada dini hari sekitar jam 4 dia sudah menemukan caranya.


Dua hari kemudian ia pergi dari lokalisasi ke desa di selatan kota yang sering dikunjunginya jika dia stres untuk melaksanakan niatnya. Di ujung desa itu terdapat lembah ngarai yang pemandangannya sangat indah. Di sebelah timur ngarai itu terdapat hutan lebat, dan gunung yang tak begitu tinggi. Saat matahari muncul dari balik gunung itu sinar emasnya meluncur seperti lempengan emas menerpa dedaunan pepohonan hutan itu.


Sementara itu kabut merayap naik dari ngarai lalu dengan pelan dan halus menyelimuti hutan dan lubang ngarai yang menganga itu. Meski di atas ngarai, ia tak merasa berada di ketinggian jika kabut itu sudah menutupinya, sebab nanti hanya akan tampak hamparan permadani putih membentang di atas ngarai. Karenanya dia bisa berjalan ke permadani itu dan, tentu saja, ia akan jatuh ke ngarai yang curam dan berbatu. Sungguh tempat ideal untuk bunuh diri. Saat pelacur itu sampai di tempat itu di pagi hari, ngarai tersebut sudah hampir tertutup oleh kabut, dan permadani putih itu sudah terbentuk. Keadaannya sepi, dan hanya desir angin yang mengisi kekosongan. Dia tinggal menunggu beberapa saat lagi, dan terlaksanalah rencananya, tanpa harus takut.


Demikianlah, ketika permadani itu sudah terbentuk, ia menarik nafas panjang, mengepalkan kedua tangan, ditegakkannya kepala dan punggungnya, lalu dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan ke bibir ngarai.Angin masih berdesir,dan di atas seekor burung melayang seolah ingin menyaksikan detik-detik yang mendebarkan ini. Langit biru cerah, udara dingin,sepi, dan langkah kakinya terdengar berdetak keras saat menapak tanah. Dalam hitungan detik ia sampai di bibir ngarai. Ia tak menatap ke bawah, hanya memandang permadani putih itu. Sejenak ia tampak bimbang, bibirnya terkatup. Lalu dipejamkan matanya dan seiring hembusan angin ia mengangkat kakinya maju ke depan...Di kejauhan terdengar suara cicit burung. Daun gemerisik disentuh angin. Bukk... pelacur itu terjerembab... ke belakang! Di saat yang menentukan itu sebuah tangan menarik badannya dengan keras. Jadi ia tak jadi mati.


Pelacur itu meringis kesakitan, lalu menoleh ke belakang. Di lihatnya seorang lelaki setengah baya, sedikit beruban, memanggul ikatan rumput, dengan sabit di pinggangnya. Lelaki itu tersenyum. "Kenapa?" tanyanya pelan, sambil meletakkan ikatan rumput, lalu menolong pelacur itu berdiri. Pelacur itu, setelah terhenyak heran sejenak, merasa kecewa, sedih dan marah, lalu duduk di atas tanah. Kemudian terdengar isak tangis di kesunyian. Lelaki itu membiarkannya menangis. Setelah beberapa lama isak itu semakin pelan, lalu berhenti sama sekali.


"Kenapa?" kembali ia bertanya. Pelacur itu hanya diam. Angin menderu sedikit lebih kencang. Setelah beberapa lama ia mendesah. "Mengapa paman selamatkan aku?"
protesnya.


"Aku hanya mengikuti kata hati. Bunuh diri itu perbuatan buruk, maka aku mencegahmu. Tampaknya kau menanggung beban persoalan yang sangat berat hingga kau berbuat nekat. Ceritakanlah, barangkali aku bisa meringankannya."
"Tak usahlah paman. Aku sudah berminggu-minggu mencoba menguranginya, tapi itu bahkan menambah bebanku. Lagipula aku tak ingin membebani paman dengan persoalanku."


Lelaki itu tersenyum. "Mari duduk. Ceritakan saja, aku tak kan merasa terbebani." Setelah ragu sejenak, pelacur itu menurut. Ia duduk di atas batu, sedangkan lelaki itu duduk di depannya, juga di atas batu.


Hening sesaat. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya. Angin bertambah kencang, kabut itu mulai tersingkap dan permadani itu perlahan-lahan terurai,menyingkapkan dasar ngarai. Rambut pelacur itu berkibar, dan beberapa helai menutupi wajahnya.Burung di langit itu masih berputar, seperti tak hendak melewatkan peristiwa ini. Kemudian, sambil menyibakkan rambut yang menutup wajahnya itu, dia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. Lalu ia mulai menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari awal hingga akhir.


Setelah selesai, pelacur itu menunduk lagi, dan tak terasa matanya kembali berlinang. "Hmm, jadi itu persoalannya. Jadi kau yakin Tuhan, walau mungkin akan mengampunimu, Dia tetap akan menghukummu atas dosa-dosamu. Sungguh adil Tuhanmu itu, tetapi Dia juga sungguh keras. Tak memberimu pilihan selain melacur, hmm, Dia sungguh keras."


Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Di atasnya, burung itu masih berputar, lalu meluncur turun ke pepohonan hutan.Sementara itu kabut sudah semakin tipis, dan matahari mulai mengirimkan hawa panasnya. Tetapi angin masih kencang.


"Aku mau bertanya, seandainya ada orang yang membebaskanmu dari dunia pelacuran, apakah kau masih yakin Tuhan akan menghukummu?"


Sejenak pelacur itu berpikir. "Ya," jawabnya.
"Mengapa?"
"Sebab aku terlampau kotor, dan hanya api neraka saja yang bisa menghapusnya. Bukankah Dia itu Hakim Maha Adil? Tentunya kesalahan tak dihapus begitu saja.
Bukankah menurut kitab suci yang pernah aku baca perbuatan buruk sebesar zarah sekalipun akan mendapat balasannya?"


"Jadi menurutmu Tuhan itu bagaimana?"
"Dia Maha Adil. Dia pasti menepati janji. Aku ingat dulu ustad di desaku mengatakan begitu. Dia akan menghukumku..." sampai di sini dia menangis lagi.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya. tampak jelas dia begitu masygul."Terlalu banyak orang yang seperti dia" katanya dalam hati. Tapi ia sadar bahwa pelacur itu sudah banyak mendapat nasihat, jadi dia merasa tak perlu memberinya nasihat lagi. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang sejenak dia berkata:"Kau tertekan sekali. Hidupmu demikian pedih karena Tuhanmu menghendaki begitu, kan? Tak memberimu pilihan selain melacur, dan tentu akan menghukummu," katanya, mengulang kata-katanya yang tadi telah diucapkan. Sambil terisak pelacur itu mengangguk, "Ya, Dia tak memberiku banyak pilihan." "Jadi kalau begitu Tuhanmu itulah sumber masalahnya,sebab Dia-lah yang menjadikanmu tertekan begini."


Mendengar ini, pelacur itu agak ragu. Benarkah Tuhannya yang menjadi sumber masalah? Benarkah takdir-Nya yang menciptakan semua persoalan yang menimpanya kini? Ia jadi bimbang, tak tahu apa yang mesti dikatakan. Seketika pikirannya kosong, kalut. Ia jadi takut sendiri. Apakah takdir Tuhan yang mempermainkannya? Ia tiba-tiba ingat betapa para lelaki di lereng Merapi yang tidur lelap bersama istri mereka yang sah tersapu oleh hawa panas dan desa mereka hancur, sementara itu para lelaki kaya yang selingkuh dan menidurinya tak tersentuh sama sekali oleh bencana ini. Apakah penduduk desa itu lebih jahat daripada elaki kaya yang menidurinya? Apakah penduduk desa itu lebih bejat moralnya ketimbang penduduk kota?


Apakah perbuatan maksiat di sana lebih banyak dan lebih dahsyat ketimbang di kota? Jika tidak, kenapa bencana itu menimpa mereka? Ia lalu membandingkannya dengan nasibnya sendiri. Ia ingat bekas suaminya, ia ingat germonya. Ia ingat maka kecilnya. Ia ingat suara anak-anak desa yang mengaji. Ia ingat penduduk desanya yang rajin bertani, mencari nafkah secara halal, tetapi tak kunjung makmur. Ia ingat lelaki yang menidurinya, yang mencuri, korupsi tetapi hidupnya makmur. Jadi di mana keadilan Tuhan? Jadi apakah Tuhan selama ini hanya mempermainkan manusia? Lagipula, adakah jaminan penduduk yang tertimpa bencana itu masuk sorga? Siapakah yang bisa memastikan para lelaki yang menidurinya itu kelak mati sebelum bertobat? Dan kepalanya seperti melayang,ia bingung. Tapi ia menjadi jengkel, sebab lelaki ini justru menambah persoalan bagi dirinya. Bukankah lebih baik dia mati tadi?


"Jika menurutmu Tuhan itu sumber masalah, kau abaikan saja Dia, atau... "sejenak dia berhenti. Lalu dengan pelan berkata sambil tersenyum misterius:"Bunuhlah Dia. Kujamin masalahmu hilang," Dan pelacur itu kaget lalu bertambah jengkel. Membunuh Tuhan? "Apa maksud paman?" "Ya, tinggalkan dia. Hiduplah tanpa Tuhan."


Pelacur itu jadi ragu, jangan-jangan lelaki ini tak waras. Tapi, setelah berpikir agak lama, rasanya anjurannya tampak masuk akal. Jika ia tak memikirkan Tuhannya lagi, tak memikirkan sorga neraka, tentunya ia tak perlu takut lagi, walau hati kecilnya masih cemas tentang keadaannya setelah mati.


Tetapi jika ia tak takut lagi kepada Tuhannya yang keras itu, bukankah ia dapat hidup dengan lebih nyaman dan tenang? Ketidakpastian nasibnya di akhirat akan lenyap, sebab ia telah membunuh Tuhan yang menguasai dunia-akhirat. Memikirkan hal ini, seketika hatinya menjadi tenang, terbitlah terang di pikirannya. Ya, ia akan bunuh atau tinggalkan saja Tuhannya itu. Ia akan menapak hidup ini dengan riang dan bebas dari beban dosa dan kecemasan akan murka-Nya. Ia merasa bebas.
Langit masih biru, awan mulai berarak dan tiupan angin menyusut. Daun gemerisik di kejauhan.


Jadi demikianlah, pelacur itu, setelah berterima kasih kepada lelaki itu, pulang ke lokalisasi. Dia kini merasa siap menentukan nasibnya sendiri. Ia tak mau tunduk pada takdir yang menetapkannya jadi pelacur. Karena ia sudah membunuh Tuhan, bukankah takdir itu sudah tak berlaku lagi? Maka dengan mantap ia bilang kepada germonya untuk berhenti sebagai pelacur. Ia siap cari kerja lagi, apa saja, asal bukan melacur. Pikirannya kini dipenuhi banyak rencana, dan seiring dengan semakin tenangnya pikirannya itu, ia merasakan banyak kesempatan terbuka lebar di hadapannya. Ia punya rencana jadi TKW, atau pembantu domestik. Ia juga punya rencana untuk membuka warung makan. Modalnya bisa pinjam temannya. Pokoknya sejak ia membunuh Tuhan, pilihan tak lagi terbatas. Ia tak lagi hanya punya pilihan melacur!


Takdir-Nya sudah dihancurkan! Ah, benar sekali nasihat lelaki itu: membunuh Tuhan yang jadi sumber masalah. Kenapa tidak dari dulu saja! Kini ia jadi pembantu.
Sekarang dia tenang dan bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Pagi itu ia merasa dadanya sangat lapang.


Majikannya akan pergi selama seminggu, dan dia boleh pergi ke mana saja selama seminggu ini. Dia ingin berlibur, dan tempat pertama yang muncul di pikirannya adalah ngarai itu. Ya, ngarai yang mengubah jalan hidupnya. Pagi buta dia berangkat. Setelah tiga jam sampailah dia di sana. Pemandangannya masih sama, masih sepi dan masih berangin. Hanya saja burung yang berputar di angkasa tak ada. Ia duduk di batu tempat dia berbincang dengan lelaki itu. Ia tersenyum ketika mengenang pertemuan itu. Angin dingin kembali berhembus, menyejukkan wajahnya, dan angin itu juga yang menyibakkan rambut menutupi wajahnya. Ia memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam,seolah-olah hendak menghisap masuk semua kesunyian yang tenang itu ke dalam hatinya, seolah hendak menyimpannya dalam hati. Tiba-tiba dia merasakan sentuhan di bahunya.


Saat membuka mata dia melihat lelaki yang dulu itu sudah berada di depannya. Tapi kini ia tak membawa ikatan rumput, hanya sabit di pinggangnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya, dengan senyum yang masih sama seperti yang dulu.


Kini bekas pelacur itu membalas senyum itu dengan senyum pula. "Jauh lebih baik. Aku merasa lebih bahagia dan tenang. sekali lagi, terima kasih atas nasihat paman," sahutnya ramah. "Oh ya? Ceritakanlah padaku. Berbagilah kebahagiaanmu denganku." Lalu lelaki itu duduk di atas batu tepat di depannya. Persis seperti pertemuan pertama dulu. Kali ini bekas pelacur itu tak ragu lagi untuk menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari sejak pertemuan pertama sampai pertemuan yang sekarang. Dan lelaki itu tertawa kecil, mengangguk-anggukan kepalanya. "Hmm, kau telah menemukan ganti atas Tuhanmu yang kau bunuh dulu. Kau telah menemukan Tuhan baru." Bekas pelacur heran mendengar ucapannya. Mendapatkan ganti Tuhan yang baru? Memangnya ada berapa banyak Tuhan itu? "Apa maksudmu?"


"Apakah kau tahu bahwa Tuhan itu tunduk kepada pikiran orang?" Perempuan itu menggeleng, dan bertambah heran. Lelaki itu bangkit berdiri, menatap hamparan langit, lalu berkata: "Dulu kau menundukkan Tuhan dengan pikiranmu. Kau jadikan dia Tuhan yang Adil dan Keras. Tuhan yang tak memberimu pilihan. Maka Tuhanpun menuruti keinginanmu. Jadi bukan Tuhan sumber masalahmu, tapi kau sendiri." Seketika itu juga pikirannya kembali kosong, tapi kini tak kalut lagi.


Ia lalu lagi-lagi ingat dulu waktu kecil saat mengaji kitab-kitab agama, ustadnya membacakan hadits qudsi, yang artinya kurang lebih menyatakan bahwa Tuhan itu adalah sesuai dengan anggapan dan pikiran orang, karena itu orang mesti berbaik sangka kepada-Nya. Kini kepalanya kembali melayang, tapi ia tak bingung lagi, juga tak jengkel lagi. Tiba-tiba dadanya bertambah lapang. Ia merasa bahagia karena telah mendapatkan Tuhan yang sama sekali lain dengan yang dulu. Tuhan yang membebaskan, memberi banyak pilihan, ampunan.


Dia tiba-tiba merasa Tuhannya yang sekarang jauh lebih ramah dan pengasih. Dia memberinya kebebasan dari pelacuran. Dia tiba-tiba sadar musibah yang berwujud rasa tertekan yang dulu menimpa dirinya bukan hanya sekedar musibah. Dia ingat musibah di lereng merapi. Dia ingat lelaki korup tapi makmur yang menidurinya. Dia ingat penduduk desa yang bekerja keras dan halal tapi tak juga makmur. Kini ia memandang itu semua secara berbeda.


Takdir tak mempermainkan! Ya, takdir tak mempermainkan manusia. Manusialah yang bermain-main dengan takdirnya sendiri. Sungguh sulit dijelaskan, tapi pengalamannya mengatakan begitu. Bekas pelacur itu tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum, dan setelah mengucap salam dia pergi, mencari rumput dengan sabitnya yang terselip di pinggang. Sejenak kemudian bekas pelacur itu tiba-tiba seperti mendengar panggilan shalat. Dan kali ini hatinya bergetar, sebab hatinya rindu ingin segera menemui dan bercakap-cakap lebih banyak dengan Tuhannya yang baru ini.


Hayya alal falah....panggilan itu kembali bergema di kalbunya. Angin masih semilir, daun gemerisik pelan di tengah sunyi. Pelan sekali...





JANUARI'2002 ~ Tri Wibowo BS ~ **milist daarut-tauhid**

Wednesday, September 29, 2004 ♥ 1:00 PM


SAYANGILAH ORANG TUA KITA


Ada sebatang pohon mangga. Daunnya rimbun, sarat berbuah sepanjang tahun. Seorang anak kecil sangat senang bermain di pohon mangga setiap harinya. Memanjat ke puncak pohon, merayap ke dahan, dan memetik buahnya. Kemudian meluncur turun bersandar di batang pohon dan terlelap dalam kesejukan naungan daun yang rimbun. Ia mencintai pohon mangga itu dan demikian pula pohon mangga itu kepadanya.


Waktu berlalu dengan cepatnya. Anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Dia tidak lagi suka bermain-main dan tentunya jarang mendatangi pohon mangga itu.


Sampai suatu hari si remaja menghampiri pohon mangga dengan wajah muram. Pohon mangga menyambutnya dengan gembira: "Mari bermain seperti dahulu". "Saya bukan anak-anak lagi, saya sudah remaja, sudah tidak senang bermain". "Lalu apa masalahmu. Katakanlah, mungkin saya dapat menolongmu," pohon mangga membujuk. "Begini, saya ingin mempunyai kecapi yang merdu untuk menghibur kekasihku," si remaja ini mengutarakan kemusykilannya. "Oh, itu mudah, petiklah buahku, kemudian juallah untuk memperoleh uang. Maka engkau dapat membeli kecapi yang merdu".


Si remaja itu bangkit semangatnya. Dipetiknya buah mangga itu sampai tak bersisa.
Pohon mangga tampak gembira, karena telah mengeluarkan si remaja itu dari kesusahannya.


Suatu hari remaja itu datang lagi ke pohon mangga. Bergembiralah pohon mangga memanggilnya untuk bermain. "Saya tidak punya waktu untuk bermain, saya telah dewasa, telah beristeri," ujar remaja yang telah dewasa itu. "Lalu kesulitan apa pula, boleh jadi saya dapat menolongmu lagi," kata pohon mangga. "Begini, saya membutuhkan rumah tempat tinggal". Belum sempat pemuda dewasa itu mengakhiri kalimatnya, pohon mangga menyela: "O, mudah pangkaslah semua dahan, dan cabang batangku, cukuplah itu untuk mendirikan rumah.


Pemuda itu lalu memangkas. Maka tinggallah pohon mangga seperti tonggak, hanya batang tanpa dahan, cabang, ranting bahkan daun. Tumbuh tidak, matipun tidak.


Waktu berlalu, datanglah si pemuda itu ke pohon mangga yang sudah menjadi tonggak.
"Boleh jadi inilah yang terakhir saya minta nasihat kepadamu. Saya sudah menjelang manula. Aku ingin menikmati hari tua, berlayar di danau. Bagaimana mungkin saya mendapatkan perahu,?". "Tebanglah batangku pada pangkalnya, buatlah perahu", kata akhir pohon mangga.


Kini pohon mangga yang dahulu berdaun rimbun, berbuah lebat, hanya tinggal akar-akarnya saja yang tersembul sedikit di atas tanah. Musim dan tahun berganti. Laki-laki yang sudah tua renta itupun datang kembali. Yang diinginkannya hanya sekedar melabuhkan dirinya berbantalkan akar pohon mangga.


Pohon mangga ibarat kedua orang tua kita. Ketika kecil kita senang bermain dengan mereka. Tatkala dewasa, kita tinggalkan beliau berdua, hanya datang bila dianggap perlu. Padahal bagaimanapun keadaan mereka, orang tua tetap akan memberikan segalanya kepada kita.


Selayaknyalah kita mendoakan kedua orang tua kita, minimal selesai shalat wajib lima waktu.


" Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku. Kasihanilah keduanya, sebagaimana mereka telah memeliharaku waktu kecil " [ QS Nuuh; 71:28 - QS Al Israa'; 17:24 ] amin...



Dikutip, diringkas dari tulisan H.Muh.Nur Abdurrahman - WM WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU [Kolom Tetap Harian Fajar] **daarut-tauhid@yahoogroups.com**

Thursday, September 23, 2004 ♥ 8:20 AM


SAYAP YANG TAK PERNAH PATAH



Mari kita bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka 'majnun', lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.



Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap ditengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:



O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap

Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati



Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.



Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana. "Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain," kata Rumi, "sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain." Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.



Kalau cinta berawal dan berakhir pada ALLAH, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini justru kita sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai.



Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah "kesempatan memberi" yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki "sesuatu" yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: "apakah yang akan kuberikan?" Tentang kepada "siapa" sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.



Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencinta. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.



Tarbawi, Edisi 91, Th 5/ Jumadal Tsaniyah 1425 H/ 19 Agustus 2004 M


PESONA SANG NABI



"Kalau saja aku adalah Muhammad," kata Iqbal, "aku takkan turun kembali ke bumi setelah samai di Sidratul Muntaha".



Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua: pesona keteduhan di haribaan ALLAH, di puncak langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan, apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata dimuka bumi. Dua kehidupan yang tidak dapat diperbandingkan. Sebab perjalanan ke Sidratul Muntaha itu memang terjadi setelah sepuluh tahun masa kenabian yang penuh tekanan, disusul kematian orang-orang tercinta yang menjadi penyangga, Khadijah dan Abu Thalib. Perjalanan itu perlu untuk menghibur Sang Nabi dengan panorama kebesaran ALLAH SWT.



Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelepan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta. Cintalah yang menggerakan langkah kakinya turun kembali ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Tahif melemparinya dengan batu sapai kakinya berdarah: "Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk makkah yang ia taklukan setelah pertarungan berdarah-darah selaam dua puluh tahun: "pergilah kalian semua, kaliah sudah kumaafkan," katanya ksatria.




Dengan kekuatan cintalah Sang Nabi menaklukan jiwa-jiwa manusia dan merentas jalan cepat kedalamnya. Maka wahyu mengalir bagai air membersihkan kerat-kerat hati yang kotor dan sakit, kemudian menyatukan kembali dalam jalinan persaudaraan abadi, lalu menggerakannya untuk menyalakan dua dengan api cinta mereka. Seketika kota Madinah menyala dengan cinta. Lalu Jazirah Arab. Lalu Persi. Lalu Romawi. Lalu Dunia. Dan Rumi pun bersenandung riang:



Jalan para nabi kita adalah jalan cinta

Kita adalah anak-anak cinta

Dan cinta adalah ibu kita



Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia mengjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dalam diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan seketika ia berujung haru.



Begitulah sebuah pertanyaan sederhana menghantar khalid menuju Islam. Sang Nabi bertanya kepada saudara laki-laki Khalid yang sudah lebih dulu masuk Islam: "Kemana Khalid? Sesungguhnya aku menyaksikan ada akal besar dalam dirinya." Khalid yang pernah membantai pasukan panah Sang Nabi dalam perang Uhud seketika tergetar. Padahal saat itu ia sedang merencanakan serangan kepada Sang Nabi menjelang perjanjian Hudaibiyah. Ia pun mencapai kepasrahannya.



Tarbawi, Edisi 92 Th. 6/rajab 1425 H/ 2 September 2004 M

Monday, September 06, 2004 ♥ 1:58 PM


"Barangsiapa yang melalaikan shalat, Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan : 6 siksaan ketika di dunia, 3 siksaan ketika akan sekarat (sakaratul maut), 3 siksaan ketika di kuburnya dan 3 siksaan pada hari kiamat kelak.

Adapun 6 siksaan ketika di dunia antara lain :



dicabut keberkahan umurnya

dihapus tanda-tanda kebaikan di raut mukanya

tidak diterima apa yang diamalkannya

tidak dikabulkan doanya

tidak dapat bagian doa para sholihin

dicabut rohnya dalam keadaan tidak beriman


Adapun 3 siksaan ketika akan mati :


mati dalam keadaan mengenaskan

mati dalam keadaan lapar

mati dalam keadaan haus yang sangat, yang bila diberi air sungai di dunia ini sekalipun tidak dapat hilang hausnya.


Adapun 3 siksaan ketika di kubur :


bumi menghimpit tubuhnya hingga remuk tulang-tulangnya

dijadikan kuburnya sebagai bara api yang membakarnya siang dan malam

diumpankan kepadanya ular bear bernama suja agro' yang akan menggigitnya


Adapun 3 siksaan nanti pada hari kiamat :


Malaikat mendatanginya dengan rantai panas menganga dan panjang mengikatkannya ke lehernya, lalu memasukkan ke mulutnya hingga tembus ke duburnya

Allah tidak memperdulikan nasibnya

Allah tidak menghapus dosa-dosanya dengan siksaan-siksaan neraka yang dirasakannya."


(Risalah Az-Zajr Ala Tarki Ash-Sholah)


::Isra' Miraj

Friday, August 06, 2004 ♥ 3:01 PM


AKU INGIN


aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
lewat isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada


~Sapardi Djoko Damono~

Thursday, August 05, 2004 ♥ 3:57 PM


Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menukilkan sebuah Hadis Rasulullah yang cukup panjang tentang amalan-amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kesulitan di akhirat kelak. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini berbunyi, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku semalam bermimpi melihat hal yang sangat menakjubkan. Aku melihat seorang dari umatku yang didatangi oleh malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu datang amalnya kepadanya dalam berbakti kepada dua orang tuanya, sehingga amal itu membuat malaikat itu kembali lagi.


Aku melihat seseorang yang telah dipersiapkan kepadanya siksa kubur, lalu datang wudhunya, sehingga wudhunya itu menyelamatkannya dari siksa kubur.


Aku melihat seseorang yang telah dikepung banyak setan, lalu datang kepadanya zikirnya kepada Allah, sehingga zikirnya itu mengusir setan-setan tersebut darinya.


Aku melihat seseorang yang kehausan, sedang tiap kali ia mendekati telaga, ia diusir darinya. Lalu, datanglah shaum Ramadhannya, sehingga shaumnya itu memberikan minum kepadanya.


Aku melihat seseorang di mana para nabi masing-masing duduk dalam halaqah, ia diusir dan dilarang untuk bergabung ke dalamnya. Lalu, datanglah mandinya dari hadas besar, sehingga mandinya itu membimbing ia dengan memegang tangannya seraya mendudukannya di sampingku.


Aku melihat seseorang yang di depannya gelap sekali, begitu pula di belakang, atas, dan bawahnya, sehingga ia kebingungan mencari arah jalannya. Datanglah kepadanya haji dan umrahnya, lalu keduanya mengeluarkan ia dari kegelapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tempat yang terang sekali.


Aku melihat seseorang yang melindungi mukanya dengan tangannya dari panasnya kobaran api, lalu datang sedekahnya kepadanya dengan menutupi kobaran api dari mukanya seraya membimbingnya ke hadapan Allah SWT.


Aku melihat seseorang yang mengajak bicara orang-orang mukmin, tetapi mereka mendiamkannya. Datanglah silaturahminya seraya berkata, 'Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ia adalah orang yang melakukan silaturahmi, maka ajaklah dia bicara'. Maka, orang tersebut diajak bicara oleh semua orang mukmin dan mereka mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya, sementara ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan mereka.


Aku melihat seseorang yang telah dicengkeram Malaikat Jabaniyyah, lalu datanglah kepadanya amal ma'ruf nahyi munkar-nya, hingga amalnya itu menyelamatkan ia dari siksa Jabaniyyah dan memasukannya ke dalam lingkungan malaikat rahmat.


Aku melihat seseorang yang jalannya merangkak dengan kedua lututnya dan di depannya terdapat tabir yang memisahkan ia dengan Allah, lalu datanglah akhlak baiknya seraya memegang tangan dan membimbingnya ke hadirat Allah SWT.


Aku melihat seseorang yang catatan amalnya datang dari sebelah kirinya, lalu datanglah takwanya kepada Allah dan mengambil buku tersebut dengan meletakkannya di tangan kanannya.


Aku melihat orang yang timbangan amalnya sangat ringan, lalu datang anak-anaknya yang meninggal waktu kecil, sehingga mereka memberatkan timbangan amal baiknya tersebut.


Aku melihat seseorang yang berdiri di tebing Jahannam, lalu datanglah harapannya kepada Allah, hingga harapannya itu menyelamatkannya dari Jahannam dan ia berjalan menuju syurga dengan selamat.


Aku melihat seseorang yang terpelanting di atas neraka, lalu datanglah air matanya karena takut pada Allah, hingga air mata itu menyelamatkannya dari jatuh ke neraka.


Aku melihat seseorang yang tengah berada di atas jembatan dengan tubuh gemetar, lalu datang husnudzannya pada Allah, hingga sikapnya itu menjadikan dia tenang dan ia pun berjalan dengan lancar.


Aku melihat seseorang yang jatuh bangun di atas jembatan. Terkadang ia merangkak, terkadang pula ia menggantung. Lalu datanglah shalatnya menegakkan kedua kakinya dan menyelamatkannya hingga ia mampu menyeberangi jembatan sampai ke pintu syurga.


Aku pun melihat pula seseorang yang telah sampai ke pintu syurga, semua pintu ditutup baginya. Lalu datanglah syahadatnya, sehingga dibukalah pintu syurga dan ia pun bisa masuk ke dalamnya".


Itulah gambaran tentang amalan-amalan yang dengan izin Allah SWT bisa menjadi penyelamat umat Muhammad SAW yang benar-benar melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah dengan hati ikhlas.


Ada kekuatan di dalam cinta
Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya
Untuk mementingkan diri sendiri.


Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan
Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.


Ada kekuatan di dalam kedamaian diri
Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan
Dan tidak mudah diombang-ambingkan.


Ada kekuatan di dalam kesabaran
Orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
Dan ia tidak pernah merasa disakiti.


Ada kekuatan di dalam kemurahan
Orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.


Ada kekuatan di dalam kebaikan
Orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.


Ada kekuatan di dalam kesetiaan
Orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.


Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.


Ada kekuatan di dalam penguasaan diri
Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.


Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini?
Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.
Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita.


Diriwayatkan dari seorang ahli ibadah, " Ketika aku berada ditengah perjalanan dan saat itu aku sedang berpuasa, aku melihat sebuah sungai yg mengalir kemudian aku menceburkan diri kedalamnya. Tiba2 aku melihat sebuah jambu yg terapung. Kuambil dan kumakan untuk berbuka. Selesai itu aku menyesal, karena aku telah berbuka dengan sesuatu yang bukan milikku"


Pagi tiba, akupun melakukan perjalanan menyusuri sungai hingga ke pintu kebun di hulu sungai yang aku duga sebagai asal jambu tersebut. Kuketuk pintu dan keluarlah seorang laki2 tua, dan aku berkata "Wahai bapak, sesungguhnya kemarin sebuah jambu telah hanyut dari kebunmu. Dan aku telah mengambil kemudian memakannya. Aku sangat menyesal, dan berharap engkau dapat memberikan jalan keluar untuk menghapus dosaku itu"


Ternyata laki2 tua itu hanya bertugas menjaga kebun, dan selama 40 tahun bekerja di kebun tersebut, ia tak memakan satu buah pun karena kebun itu bukanlah miliknya. Kemudian laki2 tua itu memberitahu bahwa kebun tersebut milik 2 orang bersaudara yang tinggal di suatu tempat.


Aku mencari kedua orang bersaudara tersebut, dan bertemu dengan salah satu nya. Kemudian aku menceritakan tentang kejadian yg berhubungan dengan hanyutnya jambu tersebut. Dan kemudian si pemilik kebun itu berkata, "Setengah kebun itu adalah milikku dan aku telah mengikhlaskan bagian jambu yang telah kamu makan".


Lalu aku pun pergi mencari dan menemui pemilik kebun satu lagi. Aku menceritakan kejadian yang aku alami. Pemilik kebun itu berkata, "Demi Allah! Aku tidak menghalalkan jambu itu kepadamu kecuali setelah engkau memenuhi persyaratanku.". Aku bertanya, "Apakah persyaratan itu".Dia berkata, "Aku akan menikahkanmu dengan anak perempuanku dan memberimu 100 dinar". Serta merta aku berujar, "Kasihani aku, karena aku tidak butuh kepada hal seperti itu. Tidakkah engkau melihat apa yang menimpaku karena ulah jambu mu ini? Kumohon engkau halalkan saja kepadaku". Namun pemilik kebun itu bersikeras "Demi Allah! Aku tidak akan menghalalkannya kecuali engkau memenuhi persyaratanku tersebut".


Ketika aku melihat tekadnya sudah bulat, aku penuhi permintaannya. Kujadikan 100 dinar itu sebagai mahar untuk anaknya, saat kuberikan semua uangnya.. Pemilik kebun itu menolak, dan ia mengembalikan setengahnya. Akhirnya aku pun menikah dengan anaknya.


Banyak orang yang mencela pemilik kebun tersebut. Mereka berkata "Anakmu banyak dipinang oleh para pembesar Negara dan tokoh2 masyarakat, tp kenapa engkau meyerahkan anakmu kepada seorang yang miskin dan tidak punya apa2". Lelaki itu menjawab, "Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya aku menginginkan kewaraan dan ketaatan. Sesungguhnya laki2 ini adalah hamba Allah yang shaleh"


Lautan Air Mata - Ibnul Jauzy